Matius 15:4-6
By. Dwi Budhi Cahyono
“Hormatilah ayahmu dan ibumu supaya lanjut umurmu di tanah yang diberikan TUHAN, ALlahmu kepadamu.” (Keluaran 20:12)
Dalam tradisi kebudayaan Tionghoa, ada satu tradisi yang disebut menyembah kepada nenek moyang/ leluhur. Praktek ini dilaksanakan dengan memelihara meja sembanyangan atau pergi ke Klenteng/ Vihara untuk melaksanakan doa dan upacara demi penyembahan kepada para dewa, nenak moyang dan orang tua yang telah meninggal. Hal tersebut dilatarbelakangi oleh konsep “Bakti” kepada orang tua yang disebut “Hsiao/haow” yang merupakan tempat utama dalam masyarakat Tionghoa. Pemahaman ini juga diangkat dan diperkuat oleh Mencius seorang guru dan filsuf China dalam ajaran-ajarannya. Bagi Mencius, seorang anak wajib menghormati orang tuanya, sewaktu mereka hidup, bahkan lebih lagi setelah orang tua mereka meninggal dunia. Dan dalam perkembangannya praktekHsiao/haow atau bakti kepada orang tua telah mengalami transformasi ke dalam praktek penyembahan kepada roh para leluhur (nenek moyang).
Dalam ALkitab, penghormatan anak kepada orang tua adalah sangat mutlak. Namun penghormatan ini bukanlah dimaksudkan dalam konteks pengkultusan (penyembahan/pendewaan) dalam bentuk suatu system religi (agama); dimana orang tua (nenek moyang) menjadi obeyk yang disembah, diagungkan dalam arah sebagai dewa, tuhan atau yang tertinggi. Sebab hal tersebut merupakan perlawanan terhadap hukum Taurat yang pertama, “Jangan ada padamu allah lain dihadapan KU. Jangan membuat bagimu patung yang menyerupai apapun yang ada dilangit diatas, atau yang ada dibumi di bawah, atau yang ada di dalam air di bawah bumi. Jangan sujud menyembah kepadanya atau beribadah kepadanya, sebab Aku, TUHAN Allahmu…” (Keluaran 20:3-5)
Penghormatan yang ALkitab ijinkan dan perintahkan adalah penghormatan sewaktu kedua orang tua kita masih hidup dalam bentuk melayani mereka, menyenangkan hati mereka, dan memberkati mereka. Mengapa demikian? Jawabannya adalah, karena kedua orang tua dapat menikmati penghormatan, penghargaan dan pelayanan kita terhadap mereka selama mereka hidup, tetapi setelah mereka mati, mereka tidak akan menikmati segala apa yang kita perbuat terhadap mereka. Tidak ada hubungan antara dunia orang mati dan dunia orang hidup.
Perlu kita ketahui bahwa, perintah TUHAN dalam Keluaran 20:12 diberikan dalam konteks bahwa Allah ingin bangsa Israel hidup dalam kekudusan dan ketaatan kepada-Nya sebagai wujud loyality umat perjanjian yang dibuat Allah dengan Israel sebelumnya. Jadi segala perintah, termasuk perintah untuk menghormati orang tua bertujuan untuk mengarahkan bangsa Israel kepada TUHAN semata. Praktek menghormati orang tua tidak boleh menggantikan Allah dalam kehidupan umat-Nya. Menghormati orang tua dapat dimengerti dalam bentuk praxis mengdengarkan, menghargai dan taat bahkan dalam Matius 15:4-6 dan I Timotius 5:8 dimana menghormati orang tua dengan menjamin kehidupan orang tua dengan mendukung kehidupan faninsial orang tua. HORMAT ADALAH WUJUD NYATA KITA BAKTI DAN MENGASIHI ORANG TUA, TETAPI TIDAK BERARTI HARUS MENGKULTUSKAN MEREKA. Tuhan memberkati. (07072011)
No comments:
Post a Comment