Janganlah kamu merupakan pasangan yang tidak seimbang dengan orang-orang yang tak percaya. Sebab persamaan apakah terdapat antara kebenaran dan kedurhakaan? Atau bagaimanakah terang dapat bersatu dengan gelap? 2 korintus 6:14
jelas firman Tuhan katakan..jagan ada pasanagan yang bukan seiman...ini selalu anak2muda kristian lalai melakukannya...sehingga mengadaikan kekristianitinya kepada bukan seiman dan lari dari pada Tuhan Yesu...saranan saya kepada anak muda ...ayu responi firman Tuhan ini supaya kita dapat sama2 menikmati kerajaan Allah...
Nas : 2Kor 6:14
ReplyDeleteDalam pandangan Allah, umat manusia pada akhirnya digolongkan dalam dua kelompok, yaitu: mereka yang ada dalam Kristus dan mereka yang tidak ada dalam Kristus (ayat 2Kor 6:14-16;
lihat art. TIGA JENIS ORANG).
Karena itu, orang percaya jangan bermitra secara sukarela atau berhubungan intim dengan orang tidak percaya, sebab hubungan semacam itu dapat merusakkan hubungan mereka dengan Kristus. Ini meliputi kemitraan dalam dunia usaha, golongan rahasia, kencan, pernikahan, dan persahabatan karib. Hubungan orang Kristen dengan orang tidak percaya seharusnya sejauh yang diperlukan dalam kaitan dengan keberadaan sosial atau ekonomi, atau untuk menunjukkan jalan keselamatan kepada orang yang belum percaya
Penjelasan :
ReplyDeletePerintah ini dapat dimaknakan menjadi "Hentikan kebiasaanmu menjadi terikat secara heterogen dengan orang-orang yang tidak percaya kepada Kristus". Prinsip ini mengacu balik kepada Taurat yang diturunkan kepada Musa (bandingkan Imamat 19:19, Ulangan 22:10). Orang-orang Kristen adalah "ciptaan baru" ( 2 Korintus 5:17); secara rohani orang Kristen tidak boleh bersatu dengan orang yang belum percaya yang mati secara rohani (Efesus 2:1). Prinsip ini digunakan oleh Paulus untuk menekankan bahwa tidak boleh dan sungguh bertentangan bila orang beriman merupakan pasangan yang tidak seimbang (menikah) dengan orang yang tidak beriman kepada Yesus Kristus.
Menurut Perjanjian Baru ada dua golongan manusia, yaitu :
- Orang yang beriman kepada Tuhan Yesus Kristus
- Orang yang tidak beriman kepada Tuhan Yesus Kristus
Kedua golongan di atas bertentangan satu sama lain (lihat 1 Korintus 5:10-11).
Bagaimanakah prinsip ini memperngaruhi kita dan bagaimanakah kita menuruti prinsip ini? Janganlah orang yang beriman kepada Kristus terikat/ berhubungan dengan orang yang tidak beriman kepada Kristus. Prinsip ini bukan berarti bahwa kita tidak boleh sama-sekali bergaul dengan orang yang tidak percaya kepada Kristus dalam kehidupan kita sehari-hari. Prinsip ini berarti bahwa kita tidak boleh menikah dengan orang yang tidak beriman kepada Tuhan Yesus Kristus.
ReplyDeletePada saat Rasul Paulus menerapkan prinsip ini, ada banyak kesalahan besar di dalam Jemaat Korintus ini, yaitu, banyak orang Kristen menikah dengan orang yang tidak berimankepada Kristus, dan orang itu kemudian ditarik untuk tidak lagi menuruti Firman Tuhan dan bahkan beribadah kepada ilah-ilah lain.
Tambahan pula, orang Kristen itu ditarik kepada hal-hal duniawi sehingga ia meremehkan Firman Tuhan dan prinsrip-prinsip Kristiani yang lain. Ia seperti lembu dan keledai yang merupakan pasangan tidak seimang. Atau ia seperti lembu dan keledai yang memakai kuk, ikatan/pikulan di leher (sebagai lambang dari hukum) yang berbeda. Pernikahan semacam ini seringkali melemahkan orang Kristen untuk tidak lagi setia kepada keimanannya.
Ada memang orang Kristen yang menikah dengan orang yang bukan Kristen dengan harapan lambat laun ia akan membawa pasangannya kepada Kristus. Tapi biasanya kerinduan yangbaik itu menjadi sia-sia, dan orang Kristen itu sendiri mulai menjadi suam dan sesudah itu ia makin jauh dari Tuhan (lihat 1 Korintus 7:12-15). Supaya jangan tersesat, baiklah orang yang belum percaya itu percaya lebih dulu kepada Kristus, setelah itu mereka baru boleh menikah.
Prinsip tsb juga berlaku dalam hubungan antara orang Kristen dan orang yang tidak percaya, misalnya : dalam hal berdagang, tidak boleh terikat dengan orang-orang yang tidak percaya. Sebab orang yang tidak percaya itu dapat membujhuk orang-orang Kristen untuk melakukan hal-hal yang bertentangan dengan Firman Tuhan. Selain itu, janganlah seorang Krosten masuk ke dalam tempat penyembahan berhala dan makan-minum bersama orang yang tidak beriman kepada Kristus di tempat itu (1 Korintus 10:27 dan seterusnya). Orang Kristen juga tidak boleh mendakwa seorang Kristen di hadapan hakim yang tidak percaya Kristus ( 1 Korintus 6:4-5 dan seterusnya).
Setiap pergaulan yang mencemarkn dan menarik orang Kristen dari Kristus dan firmanNya, haruslah ditolak. Orang Kristen tidak boleh menurunkan derajat iman Kristen atau kesucian Injil Kristus Yesus, demi pergaulan dengan dunia ini.
ReplyDeleteMaksud dari prinsip-prinsip yangh dikemukakan Rasul Paulus di hadapan jemaat Korintus ini, didasarkan telah begitu hebatnya pengaruh keduniawian/ ketidaksetiaan kepada iman yang meracuni kehidupan Jemaat tersebut. Prinsip-prinsip tersebut diterapkan tidak lain untuk menetapkan kesucian hidup di antara orang-orang Kristen: "Sebab persamaan apakah terdapat diantara kebenaran dan kedurhakaan?" Tentu tidak ada. "Atau bagaimanakah terang dapat bersatu dengan gelap?". Tentu tidak dapat. Sama seperti hal-hal yang telah disebutkan itu tidak dapat dipersatujan, semkianlah Rasul Paulus memberikan pengajaran di hadapan Jemaat Korintus bahwa Orang Kristen tidak dapat dipersatukan dengan orang yang tidak beriman kepada Kristus.
Kiranya pengajaran diatas menjadi suatu pertimbangan yang mendasari setiap tindakan kita,untuk setia dengan iman kita.
Artikel terkait :
Memahami dan Menafsirkan Ucapan Paulus Yang Sulit, 31: Pasangan yang Tidak Seimbang, di 31-pasangan-yang-tidak-seimbang-vt1256.html#p3959
Penjelasan diatas adalah pengupasan khusus 1 Korintus 6:14 dalam konteksnya dan keadaan krusial yang terjadi dalam jemaat di Korintus terhadap lingkungannya. Sehingga Rasul Paulus perlu menerapkan suatu sikap yang tegas diberlakukan dalam Jemaat tsb.
ReplyDeleteDalam kehidupan manusia banyak sekali macam problem hubungan. Sehingga 1 Korintus 6:14 tidak dapat dijadikan suatu legitimasi yang dapat melarang suatu hubungan kasih atau keluarga dalam keadaan tertentu. Ada yang sudah terlanjur menjadi keluarga, ada yang saling mengasihi dan tidak terpisahkan. Karena itu, orang percaya yang sudah hidup bersama dengan yang tidak percaya, jangan mencari jalan untuk memecah-belah pernikahan atau rumah tangga itu. Apa lagi, oleh karena suami atau istri itu adalah orang percaya, maka ia bisa mempunyai pengaruh yang khusus sehingga pasangannya itu dapat dibimbing untuk menerima Kristus (bandingkan dengan 1 Petrus 3:1-2). Penjelasan selanjutnya dapat dibaca dalam artikel "PERNIKAHAN CAMPUR", di pernikahan-campur-vt2230.html#p12076